“Daus, ingat tidak ketika itu pertemuan pertama kita? Di tempat parkir di ujung jalan itu. Waktu itu aku mau mundurkan motor tapi sulit sekali. Tiba-tiba kau datang, membantuku menariknya dari belakang, sementara aku pegang setirnya,” kata Rai sambil menunjuk asal ke depan mukaku.
***
Teriknya matahari tidak membuatku berhenti berusaha. Siang bolong begini mana boleh malas-malasan. Kalau malas tidak bisa pergi ke Turki. Jadi terus kugas si hijau, motor kesayanganku. Kuantar surat-surat ini dengan teliti, jangan sampai ada yang terlewat. Meskipun dibayar rendah, lumayan lah untuk tambah-tambah biaya kuliah. Tahu kan di zaman modern ini e-mail makin populer.
Sebelum kumasukkan surat, aku setengah teriak dulu : surat!! Entahlah, tidak wajib sih hanya saja aku terbiasa. Ketika tiba di Jalan Kenanga nomor 43 pun begitu, aku teriak dulu.
“Suraaaat!!”
“Woi mba, biasa aja! Mau bikin orang budek?”
“Maaf!”
Pria ini orang baru atau apa? Setiap hari kan aku memang begitu, setiap hari pula kuantar surat ke sini. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan.
***
“Woi, Daus!”
“Eh, Dan. Apaan?”
“Udah buat ringkasannya kan?”
“Ringkasan apaan?”
“Buat presentasi kita ntar siang.”
“Oh, udah.”
“Hafalkan ya, gue takut. Pasalnya gue belum paham bener materinya.”
“Tenang aja pasti saya sama yang lain bantu.”
“Oh, iya iya. Ngingetin doang, Us.”
“Oke.”
Aku Daus, Ramadhan Firdaus. Sekarang sedang sibuk kuliah semester pertama di Universitas swasta di Bandung. Umur masih 19 tahun, gender : perempuan. Perempuan? Firdaus? Haha iya nama saya Firdaus dan saya seorang perempuan kelahiran Subang, Jawa Barat. Awalnya banyak teman yang tidak menyangka kalau saya perempuan. Menurut mereka KTP saya salah ketik atau bagaimana. Tapi ya memang begitu, nama saya Firdaus.
“Kasiin si Daus, nih!”
“Daus mana?”
“Daus mana lagi? Yang rambutnya gondrong.”
“Oh,iya iya.”
Ada berkahnya kan? Daus yang rambutnya gondrong cuma ada satu. Cewek pula.
***
“Gini ya, yang kalah kudu pacaran sama Daus.”
Haha, kalimat di atas seriiiiiing sekali saya dengar (atau baca?). Secara tidak langsung, tentu. Lewat wall teman di facebook atau di twitter. Guyonan mereka itu awalnya menyakitkan, tapi lama-lama terbiasa juga sih. Mereka menjadikanku taruhan, sebagai bencana yang akan ditimpakan pada orang yang sangat tidak beruntung. Tidak apa-apa, untuk main-main saja kok.
“Daus tuh ya pertama diraguka kelaminnnya. Dia itu cewek apa cowok? Kalau cewek tuh kudunya anggun, kaya Meegan Henry. Rambutnya kudu panjang dan rajin sisiran. Kedua dia itu jorok jarang mandi. Liat aja banjunya kucel dan itu-itu aja. Udah gitu sering banget ngupil tiba-tiba kalau lagi ngobrol. Udah dapet kalo gak disentil dileletin ke meja. Ih jorok banget, kan? Terus tempat tinggalnya tuh gak jelas. Kadang tidur di kosan temennya, si Eka, kadang tidur di lab!! Kacauuuuuu orangnya!!! Kok lo mau sama dia?”
Teman pacar saya memang iseng. Menanyakan hal yang tidak perlu begitu. Yang pacaran kan saya sama Rai, ngapain mereka yang repot. Untung Rai orang baik, dia tidak menghiraukan mereka. Rai cuma nanya balik, “Terus?” . Dan mereka semuanya langusng bungkam.
***
“Us, jalan yok,” ajak Rai.
“Gak bisa, lagi ada kerja. Ntar aja ya, Rai,” kataku sambil menghidupkan motor dan segera berlalu. Apa yang terjadi di belakang? Tidak tahu. Tapi kurasa Rai agak marah.
Begitulah, tiap Rai ajak aku selalu kesulitan. Satu sisi aku takut Rai sampai marah. Tidak enak rasanya. Tapi bagaimana? Surat-surat ini tidak bisa sampai dengan sendirinya ke alamat tujuan.
Aku terus melaju tanpa memikirkan hal lain. Rai, nanti sajalah kubujuk dia. Mengajaknya makan atau nonton. Meski begini, aku nyaman dengan Rai. Dia cowok cuek yang melihat cewek dari..dari sisi apa aku tak tahu. Yang jelas dia berbeda dengan kebanyakan pria.
Aku terus melaju. Hmmm.. lampu merah masih jauh, tapi kendaraan sudah mulai terhenti. Bandung.
***
“Rai, halooo?” kataku dari sebrang telepon. Kutelpon Rai jam sembilan malam.
“Hmmm,” jawaban dari sebrang.
“Rai jalan yok,” nadaku dibuat seceria mungkin.
“Lo dimana?”
“Di bunderan depan Miko.”
“Yudah tunggu, gue kesana.”
Aku mengunggu kedatangan Rai. Nanti akan kuajak dia nonton FF 5. Sebenatnya aku sudah nonton sih, ditraktri Eka yang baru jadian dengan Fajar. Karena seru, kurasa Rai akan suka. Oh ya, aku belum cerita, ya? Kalau aku jalan dengan Rai tidak ada scene bonceng-boncengan. Aku bawa motor, Rai juga. Sering sekali Rai memintaku untuk tidak bawa-bawa motor ketika kami baru dua minggu pacaran, katanya ia bisa mengantarku kemana saja. Kubilang Rai saja yang tidak usah bawa motor tapi ia tidak mau. Ia bilang perempuan tidak harus bawa motor. Lalu kubilang aku amat butuh motor. Intinya tidak ada yang mau mengalah.
Mataku berbinar ketika kulihat Rai berjalan. Celananya yang robek-robek itu, rambutnya yang agak bergelombang, matanya yang cokelat dan meneduhkan. Tuhan, benar kan dia pacarku?
Kami berdua berjalan berdampingan, setelah sebelumnya memarkirkan motor di parkir area terdekat. Niatnya mau cari makan. Ah, kami temukan sepasan kursi, dengan satu meja kecil di tengah.
“Rai, mau gak nonto..nn..”
“Gak, gue kesini mau ngomong,” kata Rai memotong kataku.
“Kriiiiiinggg, kriiiiiiiingg,” hp zaman batuku bunyi, segera kutekan tombol off.
“Iya, apa?” kataku.
“Kita putus.”
Putus? Entahlah bagaimana mendeskripsikannya. Sesuatu dalam dadaku retak. Suaranya memilukan. Kurasakan mataku pedas. Ayolaah, jangan menangis di depan pria!!
“Putus? Alasannya, Rai?” kataku sambil sedikit tertawa. Dusta paling besar : berusaha tertawa. Tapi Rai hanya menggeleng.
“Ngaca,” katanya.
Oke, oke aku akan bercermin. Nanti kalau di rumah. Aku akan bercermin lama, seperti maumu.
Tanpa basa-basi, kuraih kunci motor di atas meja dengan gesit sampai helmku terjatuh dan menggelinding agak jauh. Kuraih dengan sedikit berlari, dan berlari betulan menuju motorku. Kuhidupkan hp dan menyempilkannya di kepalaku, diapit oleh helm yang sebelumnya kukenakan dengan kasar. Tak dapat dibendung, aku menangis. “Ya, halo Pak In.”
***
Gosip langsung menyebar. Berita aku putus dengan Rai langsung menjadi Trending Topic di kampus. Sampai ada yang membuat artikel segala di mading. Cuek sajalah.
“Daus, lo putus sama Rai?”
“Iya,” kataku sambil melampiaskan nafsu pada hotdog besar di tangan.
“Seriusan?”
“Iya, Eka.”
“Muncrat! Kalo ngomong makanannya telen dulu ngapa?” kata Eka sambil mengelus blus merah mudanya. Ketus.
“Lu lagi bego, liat kan lagi makan? Malah diajak ngobrol,” kataku sedikit lebih ketus.
Sahabatku itu, Eka, memang sedikit bodoh. Tapi cantik. Kalau aku kumal, tapi otakku agak berisi. Kita kombinasi yang mendekati sempurna. “Daus sama Eka,” Eka yang bilang.
***
“Wah, Rai, dari dulu kek! Kebuka juga mata lo?” Bima bertanya padaku. Kalau Daus dengar, bisa habislah Bima ditinjunya. Tidak kujawab tapi pertanyaan Bima ini, tidak perlu. Aku hanya tersenyum.
“Rani, cantik, pinter, tajir. Kenapa lo milih si Daus dulu, Raiiiiiiiiiii?”
“Gak usah lo ungkit lagi, bisa?” kataku ketus, berharap cukup untuk membungkam mereka.
Daus, maaf.
***
Sekarang aku di sini, di depan cermin. Mataku sembap. Apa aku menangis saat tidur? Separah itukah? Tidak, aku tidak menangis. Ya, hanya sibuk mencari materi kemarin yang sempat tertinggal. Begadang. Sampai sangaaaaaaaaaaaaaaat malam. Lalu aku ketiduran. Itu saja. Apa aku sedang menghibur diri? Apa aku bebohong tadi? Iya.
Yang pertama mataku sembap. Kemarin-kemaring mungkin tidak. Yang permanen adalah kulit kuning langsat dari ibu, komedo yang banyak di hidung, jerawat kecil-kecil di jidat. Itu mukaku. Rambutku..hmmm.. agak kusut, sedikit kecokelatan. Tidak berponi, panjangnya sebahu. Apa yang salah? Tubuhku.. kurus. Kurasa setiap minggu aku menyusut. Kecapekan. Pakaianku..keren. jeans ketat abu-abu dengan sedikit sobek di lutut sebelah kanan. Bukan modelnya, memang robek waktu aku jatuh dari motor dua bulan lalu. Kaos tangan panjang polos, warna biru donker. APA YANG HARUS KUUBAAAAAAAAAAAAAH? Aku nyaman dengan semuanya. Sepatuku, tanganku, kulitku, rambutku, jaket kulit, tas selempang mungil, semuanya tak ada yang membuatku tidak nyaman. Maksudmu apa, Rai?
***
Sebulan berlalu, gosip itu perlahan hilang. Aku memang sudah berkali-kali mengalami yang seperti ini. Tidak di kampus, di lingkungan rumah. Jika tetangga mengoceh soal ayah, aku tidak ambil pusing. Kuabaikan semuanya, itu lebih baik. Dan gosipnya hilang dengan sendirinya. Betapapun keras usaha mereka membuat kekacauan, akan terasa mudah dilewati jika kita abaikan. Begitu juga dengan gosip kemarin.
Eka berlari ke arahku, sambil menggandeng Fajar. Aku melihatnya dari jauh, dengan mata agak sensi.
“Fajar, sampai sini aja ya. Makasih udah antar Eka. Dah Fajar,” kata Eka sambil mendorong Fajar menjauh.
“Si bego, ngapain lo tarik dia kesini, tadi?”
“Gak ada waktu. Lo tau gak apa?”
“Apa?”
“Rai masuk RS!”
“Ya, terus?” kataku acuh.
“Hiiiiih! Lo kudu tengok!”
“Gak mau. Ngapain?”
“Harus, Us! Yok gue anter, gue tau dimana dia dirawat.”
Sembunyikan rasa penasaranmu, sembunyikan, jangan tunjukkan. Jangan tanya Rai sakit apa. Acuh saja.
***
“Ehm,Us, gue balik dulu ya. Fajar nelpon gue barusan,” kata Eka gugup.
“Gak, lo diem disini,” kataku agak galak. Kuaduk-aduk kolong meja, mencari bahan bacaan.
“Tapi Fajar udah nelpon gue dari tadi. Yayaya?”
“Terus gue disini, gitu. Nemenin si Rai ini di sini iya? Lo yang bawa gue kesini, Eka tujuan lo apa?”
“Gak ada, ya lo tungguin aja si Rai, sampe bangun.”
“Gak, gue mau balik,” kataku sambil bangkit dari sofa.
“Gak boleeeh.”
Kudengar suara desahan. Kuhampiri Rai, kudekatkan telingaku ke dekat mulutnya.
“Dah Daus gue balik,ya,” kata Eka sambil membanting pintu. Hentakan high heels nya semakin menjauh.
Aku disini, Rai.
***
“Kamu sakit apa, sih?”
“Gak tau,” kata Rai, memandang ke langit-langit.
“Terus keluargamu mana?”
“Gak tau.”
“Hey, Rai. Di atas ada apa sih?” kataku sambil ikut-ikutan memandang langit-langit rumah sakit yang kosong.
“Gelap.”
Gelap? Apa maksudmu? Semua sulit kucerna, belum, belum bisa kucerna maksudnya. Jantungku berdegup kencang, membuatku berkeringat di dahi banyak sekali. Matahari sedang terik bagaimana bisa kamu bilang ini gelap?
***
“Nak Rai ini habis kecelakaan. Kepala bagian depannya menabrak trotoar,” kata dokter menjelaskan. “Dik Daus ini siapanya Rai?”
“Sepupunya,” kataku singkat.
“Oh, iya. Sudah dua hari Rai dirawat disini yang nengok baru Dik Daus saja. Tolong sampaikan sama orangtua Rai. Dan ini,” dokter menyodorkan seberkas surat pembayaran “daftar biaya yang harus ditebus. Totalnya sudah tertera. Paling lambat ditebus dua minggu kemudian. Ya, mungkin hanya ini saja yang bisa saya jelaskan pada Dik Daus. Selebihnya mungkin Dik Daus sendiri sudah mengetahui.”
***
Sekarang kami di sini, di bunderan depan Miko. Rai sekarang sudah mau kubonceng, dia tidak bawa motor lagi.
“Kau sudah tau aku kerja jadi tukang pos?” kataku sambil menggenggam tangan Rai.
“Iya,” katanya sambil tersenyum.
“Tau dari mana?”
“Tau saja.”
“Kenapa tidak tanya aku saja?”
“Tidak perlu. Atau perlukah?”
“Ya,” kataku.
“Oke, jadi kau kerja apa? Selama ini kau susah sekali kuajak jalan.”
“Aku kerja jadi tukang pos. Ayahku tidak bisa diandalkan, ibuku pergi entah kemana.”
“Aku sudah tau,” katanya sambil tersenyum lagi. “Lalu kenapa kau mau jadi pacarku?”
“Tidak tahu,” kataku sambil makin erat menggenggam tangan Rai. Udara sore kali ini sedikit lebih dingin.
“Kau harus jawab. Tadi pertanyaanmu sudah kujawab.”
“Perlukah?”
“Ya.”
“Tapi aku memang tidak tahu. Bagaimana?”
“Cinta tidak butuh kata ‘karena’ ya?”
“Iya kali. Cinta itu apa?”
“Tidak tahu.”
Dan sore itu kita berdua tertawa. Entah apa yang kami tertawakan. Di sela tawa itu aku sedikit menitikkan air mata. Bahagia atau malah sedih sekali. Rai sekarang tidak bisa melihat. Kecelakaan itu merenggut fungsi dua mata cokelat miliknya. Tapi mata itu masih terlihat indah, fungsinya saja yang hilang.
“Daus, ingat tidak ketika itu pertemuan pertama kita? Di tempat parkir di ujung jalan itu. Waktu itu aku mau mundurkan motor tapi sulit sekali. Tiba-tiba kau datang, membantuku menariknya dari belakang, sementara aku pegang setirnya,” kata Rai sambil menunjuk asal ke depan mukaku.
“Bagaimana kau tahu itu tempat parkir?” kataku sambil sedikit tertawa.
“Aku tahu saja.”
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Friday, August 26, 2011
Monday, April 18, 2011
Ini nih, yang bikin hati tersentak
Suatu hari seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.
Pertama.
“Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?”
Murid-muridnya ada yang menjawab…”orang tua”, “guru”, “teman”, dan “kerabatnya”. Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “kematian”. Sebab kematian adalah PASTI adanya.
Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini ?”
Murid-muridnya ada yang menjawab…”negara Cina”, “bulan”, “matahari”, dan “bintang-bintang”. Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Siapapun kita, bagaimana pun kita, dan betapa kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.
Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini ?”
Murid-muridnya ada yang menjawab…”gunung”, “bumi”, dan “matahari”. Semua jawaban itu benar kata Sang Guru. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu”. Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).
Pertanyaan keempat adalah “Apa yang paling berat di dunia ini ?”
Di antara muridnya ada yang menjawab…”baja”, “besi”, dan “gajah”. “Semua jawaban hampir benar”, kata Sang Guru, tapi yang paling berat adalah “memegang amanah”.
Pertanyaan yang kelima adalah “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Ada yang menjawab “kapas”, “angin”, “debu”, dan “daun-daunan”. “Semua itu benar…”, kata Sang Guru, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan ibadah”.
Lalu pertanyaan keenam adalah “Apakah yang paling tajam di dunia ini ?”
Murid-muridnya menjawab dengan serentak… “PEDANG…!! !”. “(hampir) Benar…”, kata Sang Guru , tetapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Pertama.
“Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?”
Murid-muridnya ada yang menjawab…”orang tua”, “guru”, “teman”, dan “kerabatnya”. Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “kematian”. Sebab kematian adalah PASTI adanya.
Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini ?”
Murid-muridnya ada yang menjawab…”negara Cina”, “bulan”, “matahari”, dan “bintang-bintang”. Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Siapapun kita, bagaimana pun kita, dan betapa kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.
Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini ?”
Murid-muridnya ada yang menjawab…”gunung”, “bumi”, dan “matahari”. Semua jawaban itu benar kata Sang Guru. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu”. Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).
Pertanyaan keempat adalah “Apa yang paling berat di dunia ini ?”
Di antara muridnya ada yang menjawab…”baja”, “besi”, dan “gajah”. “Semua jawaban hampir benar”, kata Sang Guru, tapi yang paling berat adalah “memegang amanah”.
Pertanyaan yang kelima adalah “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Ada yang menjawab “kapas”, “angin”, “debu”, dan “daun-daunan”. “Semua itu benar…”, kata Sang Guru, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan ibadah”.
Lalu pertanyaan keenam adalah “Apakah yang paling tajam di dunia ini ?”
Murid-muridnya menjawab dengan serentak… “PEDANG…!! !”. “(hampir) Benar…”, kata Sang Guru , tetapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN
senantiasa belajar dari MASA LALU
dan tidak memperturutkan NAFSU ?
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita ?
senantiasa belajar dari MASA LALU
dan tidak memperturutkan NAFSU ?
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita ?
Labels:
cerpen
Sunday, April 3, 2011
Ingat?
“Mungkin kau akan sedikit terkejut. Siapa aku? Coba kau tebak? Tapi kurasa kau tak ingat aku. Jadi, biarlah saja sampai kau tahu sendiri. Yang jelas aku ini temanmu, yang sewaktu kau SMU adalah teman sekelasmu. Tapi ketika itu jumlah perempuan ada dua puluh satu murid. Sedikit, kan?
Begini ya, aku punya cerita. Dulu, aku tak sengaja melihatmu dari pinggir. Ketika itu kau sedang ada di balkon depan kelas, menekuk kedua sikumu, dan memandang ke bawah. Kau ingat? Ketika itu anak IPS sedang melakukan hal bodoh. Ingat?
Kau tahu apa yang kupikirkan saat itu? Aku pikir kau tidak terlalu buruk—bahkan keren! Hanya saja kau hitam. Haha, maaf ya.
Sebelumnya aku berpikir kau itu sangat menjengkelkan, begitu berantakan, dan… memalukan. Bagaimana tidak? Setiap Senin kau selalu ada dalam barisan orang-orang terlambat, yang berada di luar gerbang sekolah saat upacara. Kau juga sering tidur di kelas, dan mentelantarkan tugas-tugasmu, semua peermu, tidak ada satupun yang kau kerjakan di luar sekolah! Belum lagi main dengan teman asramamu, melempar-lempar nasi sisa makan siang. Astaga! Bagaimana bisa aku menyukaimu?
Tapi, mungkin remaja memang begitu—mudah kagum, atau apa. Tapi juga, entah kenapa aku bisa melihatmu seperti itu. Seperti kau anak baru yang bermasalah saja. Ya, aku penasaran denganmu.
Lalu, entah bagaimana. Seakan pucuk yang dicinta malah ulam yang tiba. Aku punya nomor teleponmu, tanpa minta pada siapa pun. Malah kau yan mengirimiku pesan duluan! Nah, sekarang kau ingat siapa aku?
Lalu, selama empat bulan kemudian kita berteman. Berkomunikasi lewat kirim-mengirim pesan tanpa pernah bertegur sapa selama empat bulan itu—habis aku malu kalau harus menyapamu duluan! Lalu, kau menyapaku. Aku masih ingat kata pertama yang kau katakan: “Sombong, euy. Si jelek sombong.”
Lalu aku tercengang, jujur aku tak tahu kalau kau yang bicara. Kan aku hanya lewat di depanmu, dan ketika itu kita sedang musuhan. Ingat? Lalu kau tersenyum, membuat jantungku berdegup kencang sekali (untung jarak kita sudah jauh, sekitar sepuluh jengkal, jika tidak kau bisa mendengarnya, dan aku bisa mati konyol). Aku amat senang, kau tahu?
Oh, ya. Dan sebelumnya—ketika kau belum pernah menyapaku—sekolah mengadakan porak. Kau main tenis meja, kan? Dan kau kalah karena menurutmu temanmu main tidak bagus, kau menyalahkan temanmu. “Gara-gara Dennis, jadi tim kita kalah. Padahal aku sudah main bagus sekali. Gara-gara dia, sumpah,” begitu katamu. Kau bilang begitu lewat pesan, bahkan ketika kita hanya berjarak enam meter! Ingat?
Tapi, meskipun kita begitu dekat, kita tidak sampai jadian. Lagipula, aku tak ingin dulu pacaran. Pacaran tidak akan berguna ketika kau sedang dalam proses belajar. Iya, kan? Tapi, kau sempat mengaku cemburu jika aku dekat dengan teman priaku. Padahal ketika itu kami hanya mengobrol soal tugas kelompok! Kau mengungkapkan itu lewat pesan. Ya, kau selalu mengirimiku pesan setiap sepuluh menit sekali.
Oh, ya. Kau pernah bilang kau ini atlit kecelakaan. Maksudnya kau jadi atlit bukan maumu. Iya, kan? Ketika itu kau mengirimiku pesan setiap jam setengah sepuluh malam. Kau bercerita tentang asramamu yang begitu tidak menyenangkan. Tentang kalian—para atlit muda—seringkali berdemo jika tidak diberi uang saku. Dan akhir-akhirnya kalian dimarahi pengurus juga. Dan ketika itu kau mengeluh untuk berhenti. Kau menyerah, kau ingin berhenti jadi atlit. Kukatan tidak boleh begitu, kau ingat? Kukatakan asrama itu seru, tidak sepi seperti keadaan rumahku setiap hari. Kau itu beruntung, jadi jangan menyerah.
Ya, kau sering mengeluh. Kau sering jatuh juga. Kau sering menabrak tempat sampah yang ada di depan kelas, kau sering diserempet motor ketika kau berjalan terlalu ke samping di trotoar, kau sering cedera ketika latihan, kau sering, sering sekali mengeluhkannya dan bercerita padaku. Entah itu berlebihan atau apa. Tapi aku senang mendengar ceritamu. Kau begitu terbuka dan menyenangkan—sekaligus misterius. Aku pernah bilang begitu, kau ingat? Dan kau selalu memanggilku ‘jelek’ padahal kau sendiri gosong. Dan kita selalu berdebat soal apa pun. Soal bola, soal kaos, soal guru-guru, soal tugas sekolah. Hingga suatu saat kita bertengkar hebat dan kau tak pernah mengirimiku pesan lagi.
Ah, tak terasa sudah dua puluh tahun sejak kejadian yang terakhir itu. Kau begitu berbeda sekarang. Dulu aku suka matamu yang tajam. Kau begitu menawan, seperti patung buatan seniman yang dipahat hati-hati. Kau tinggi, begitu besar, apalagi jika aku melihatmu ketika kita sedang bersebelahan—secara sengaja.
Tapi kini kau begitu lemah. Kau banyak berubah. Matamu jadi gelap, dan lenganmu tak sekekar dulu. Punggungmu tidak setegap dulu juga. Lalu Noi menelponku untuk datang ke sini, menengokmu sebagai teman lama. Oh, entah bagaimana dia bisa tidak menghilangkan nomor rumahku sementara kontak terakhir kita sudah lama sekali. Dan ini aku, datang karena kutahu kau pasti sedang tidak beres, kau sakit apa sih? Oya, aku juga kaget bisa ketemu kau lagi! Di Bandung ini siapa yang pernah kau kenal selain aku dan Noi?”
Sebelas detik hening. Dan ia mulai bicara.
“Juli, kau tahu sesuatu? Aku yang meminta Noi menghubungimu dan aku ingat semuanya. Semua saat kau berumur lima belas dan aku enam belas, ketika aku begitu bodoh soal matematika.”
“Syukurlah. Lalu mana keluargamu? Mana istrimu?” kataku antusias.
Sepuluh detik hening.
“Aku… belum menikah,” kata Rangga yang terbaring di depanku, yang sejak tadi kuceritakan semuanya.
“Belum menikah?”
Delapan detik hening.
“Ya.”
Dua belas detik hening.
“Jadi, yang mana punyamu?” katanya lagi sambil memalingkan wajah ke dua orang anak balita di depannya.
“Yang mana?” kataku sedikit tidak paham.
“Ya, yang mana punyamu?” ulangnya.
“Tentu saja mereka semua anak-anakku,” kataku bangga.
“Ya, itu... bagus.”
Tak lama air mata bergulir di pipinya yang tak sekencang dulu itu, tapi air mukanya tidak menampakan perubahan apa pun. Ekspresi mukanya tetap datar.
“Kenapa kau menangis?” kataku salah tingkah.
“Seharusnya—mereka—anak-anakku juga,” ia berkata perlahan. Amat pelan sampai aku tak bisa mendengarnya, dan aku tercengang.
You were always gonna be my love and you should know
Even if I fall in love with somebody else
I'll remember to love you taught me how
You were always gonna be the one
and for now, I'll still be singing this love song
for... Somebody like you, my first love
Even if I fall in love with somebody else
I'll remember to love you taught me how
You were always gonna be the one
and for now, I'll still be singing this love song
for... Somebody like you, my first love
Boys II Men – First Love
Labels:
cerpen
Saturday, March 19, 2011
Cerpen Remaja
Kerja ayahku pindah-pindah, otomatis aku juga pindah sekolah sering sekali. Kali ini ayahku bertugas di Ohio, dan ibu sangat suka Ohio. Kami menetap di sini sudah tiga bulan. Aku sekolah di SMP swasta yang letaknya tidak jauh dari rumah. Guru-guru menyukaiku karena aku tergolong anak yang pandai. Setiap hari setidaknya aku bolak-balik ke depan kelas lima kali.
Sebenarnya aku kurang betah disini, banyak anak yang tidak menyukaiku. Mereka bilang aku udik, sok tahu, dan ambisius. Terserah, aku tak peduli apa kata mereka. Toh, aku di sini tidak akan lama. Jalan dua minggu mulai ada cowok yang menggodaku dengan menjambak-jambak rambutku. Sebenarnya itu bukan gangguan, aku tidak merasa risih sama sekali. Namanya David.
Suatu kali ia menjambak rambutku kencang sekali, jadi ikatannya lepas dan rambutku terurai menutupi pundakku. Daviiiiiid! Aku segera berlari mengejarnya, berputar-putar di sekitar tiang sampai kewalahan, sementara David masih tertawa-tawa dan sesekali mengejekku. Daviiiiiiiiiid! Kembali aku mngejarnya setelah mengambil nafas beberapa kali.
Seminggu kemudian…
“Ayo kita jadian”
“Ayo”
Aku senaaaaaaaaang sekali, di umurku yang baru tiga belas ini aku sudah punya pacar. Tapi, belum tentu ibu mengijinkan. Jadi, setiap David mengajakku jalan ke luar rumah, aku selalu sembunyi-sembunyi. Bilang pada ibu aku akan kerja kelompok di rumah salah satu teman. Sebelum berangkat aku mandi lamaaaaaaaa sekali, memakai wangi-wangian, dan menyembunyikan aksesoris di dalam tasku. Jika sudah aman dari pengawasan ibu, aku akan memakainya agar terlihat cantik di depan David.
Sudah lebih setengah tahun aku jadian dengan David, selama itu tak satu pun orang rumah yang tahu. Rahasia ini tersembunyi rapat sekali. Tapi, aku melihat sesuatu dalam mata ibu,tanda tanya yang mengusik.
Tujuh bulan kami tinggal di sini. Hubunganku dengan David masih indah, semuanya baik-baik saja. Tiba-tiba seakan aku dicekoki obat pahit, ayah bilang tugasnya selesai. Artinya kita harus pindah ke kota ayah selanjutnya.
“A-a-ku tidak mau pindah,” kataku terisak di depan ayah.
“Tapi tugas ayah sudah selesai.”
“Aku suka Ohio.”
“Kau bilang tidak suka.”
“Aku suka Ohio, ayah.”
“Tapi kita harus ke Settle.”
“Aku tidak mau!” kataku sambil meninggalkan ruangan, pergi ke kamarku.
Aku terisak di lantai, air mata terus bercucuran dan ayah sudah berhenti menggedor-gedor pintu kamar. Bukan karena Ohio, tapi karena David. Aku cinta David, bukan Ohio! Akhirnya aku mengalah, aku ikuti saja mau ayah.
Di sekolah…
“Wajahmu jelek sekali,” kata David saat kami makan siang.
“Kau benar.”
“Kau ini kenapa sih?”
“Tidak apa-apa,” kataku sambil berusaha tersenyum.
Sebentar lagi aku tidak akan ketemu David, tidak akan ada lagi yang menjambak rambutku di taman belakang sekolah. David maafkan aku. Karena sudah penat, kuputuskan untuk mengirimi David surat. Kutulis beberapa kata di kertas dengan warna merah jambu dengan banyak gambar hati kecil-kecil bertebaran di atasnya. Setelah selesai kumasukkan amplop dengan warna sama, kusemprot dengan parfum ibuku, dan terakhir meninggalkan tanda kecupan merah medok dengan bibirku. Jujur, kupikir ini sedikit memalukan, tapi toh aku tidak akan sekolah disana lagi, jadi tak masalah jika ada siswa lain yang membacanya.
Dua hari sebelum pindah, keluarga kami berkemas. Aku mencuri-curi waktu untuk bertemu dengan Evan di taman kota, menyuruhnya memberikan surat ini pada David saat makan siang pada hari Selasa.
“Ingat, kau tidak boleh membukanya,” kataku sedikit mengancam.
“Lagipula untuk apa?”
“Kau harus memberikannya tepat sepuluh menit sebelum bel makan siang!”
“Iya, aku mengerti.”
“Thanks, Evan.”
Aku tidak nafsu makan, seharian terus-terusan aku memikirkan David. Aku takut dia akan merasa kehilanganku, saat aku jauh nanti. Tiba-tiba sesuatu menyentakku.
“Roselle, coba tebak?” kata ayah.
“Apa?”
“Kita tidak jadi pindah. Kau suka Ohio, bukan?”
Aku salah tingkah, perutku melilit mengingat surat yang kubuat kemarin. “Tapi ayah harus bertugas di kota lain, kan?”
“Ayah kira keluarga lebih penting. Kau bilang sekolahmu menyenangkan dan ayah tahu kau jarang sekali bilang begitu, jadi ayah putuskan kita tidak akan pindah sekarang-sekarang. Ayo, keluarkan kembali barang kalian,” ayah berseri-seri.
Astaga!
Kupukul-pukulkan kepala ke ujung meja belajar. Menyesali perbuatanku yang begitu bodoh. Sialan! Aku akan dipermalukan habis-habisan. Bagaimana ini?
Esoknya aku pergi ke sekolah. Setiap langkah selalu saja aja tiga atau lebih pasang mata mengikutiku. Diiringi senyum sinis tentunya. Sepertinya dugaanku benar. Sampai saatnya aku tiba di depan kelas, disebelah pintu ada mading dan aku membacanya beberapa menit. Artikel tentang apa? Suratku dipajang disana, astaga!
Aku hampir mati karena malu, beberapa anak melingkariku sambil tertawa terbahak, semakin lama semakin banyak. Akhirnya aku menangis, keras.
“David,” aku memanggilnya tapi dia tidak menyahut juga.
“David!” kuulangi dengan suara yang lebih keras.
“David!” kali ini aku setengah berlari mengejarnya.
“Apa?” katanya sedikit membentak. Aku kaget.
“Aku tidak jadi pindah! Bagus kan?”
“Bagus kau bilang?”
“Ya,” kataku ciut.
“Dengar ya Roselle, aku hanya mempermainkanmu. Aku jadian denganmu hanya untuk taruhan dengan gengku. Kau begitu kaku, mana mau aku denganmu.”
“Jadi,”
“Ya,” katanya sambil berlalu. Tak lama, seorang wanita berumur sama denganku menggandeng tangannya.
Sialan! Sudahlah, aku tidak mau lagi mengungkitnya. Tiga hari juga aku sudah bisa melupakannya. Lagipula David itu berengsek! Dari awal memang aku minat dengan Parker, dia lebih tampan.
Dasar remaja!
Labels:
cerpen
Subscribe to:
Posts (Atom)

