Showing posts with label curcol. Show all posts
Showing posts with label curcol. Show all posts

Friday, October 14, 2011

I'll find my own way

Tak tau lah..jadi orang itu seharusnya bersikap seperti apa saya pun masih mencari maksudnya. Mungkin dibuatnya tulisan ini bagi saya adalah sebagai penghibur diri atau semacamnya. Saya lagi down banget nih ceritanya. Nilai UTS Senin nanti akan dibagikan dan saya gak tau harus ngapain sekarang. Minta perbaikan? Jelas sudah terlambat.

Kadang saya mikir untuk apa belajar Kimia, Fisika, Matematika. Serasa buang-buang waktu mempelajari mereka bertiga. Gak tau tiba-tiba gak suka, mungkin karena gak bisa. Tapi toh sudah besar nanti tidak akan dipakai, kan? Saya jadi arsitek sekali pun sepertinya tidak akan membutuhkan perhitungan yang kompleks-kompleks amat. Arsitek mana yang mau menghitung tinggi gedung dengan cara melemparkan batu dari atasnya? Gaya gravitasi, berat batu, dan angka-angka rumit lain tentu harus dilibatkan. Eh tapi apa ada?

Jujur, sesuatu yang mungkin mengundang tawa bagi banyak orang. Jujur itu hanya akan membuat orang tersisih. Jujur jarang dipakai. Tapi saya yakin belajar tidak hanya mengejar nilai, hmmmm saya sendiri juga gak tau setiap dalam situasi belajar itu apa yang saya kejar, yang saya cari. Hanya untuk sekedar meliukkan pena membentuk angka sembilan atau delapan tentu gak susah pan? Waktu TK juga diajarin. Tapi apa yang sebenarnya saya cari ya saya juga gak tau. HAHAHAHAHAHA menyedihkan banget!

Jadi apa sih yang sudah kita dapat selama belajar 11 tahun ini? Apa ilmu-ilmu pasti di atas akan terpakai suatu saat. Oleh kita? Oleh kita semua? Oleh tidak hanya orang-orang yang menggeluti bidang Fisika dan Matematika? Ibu-ibu rumah tangga misalnya?

Motivasi dari seorang guru:

"Kita belajar setiap hari ke sekolah, duduk, terus pulang, apa kalian tidak menyesal? Mau duduk aja harus di sekolah pake mandi dulu, naek angkot dulu. Apa kalian tidak merasa semuanya sia-sia? Untuk apa kita belajar Fisika, Matematika, dsb? Apa yang dapat kalian petik?"

setelah itu beliau diam sejenak, agak lama sih sebenernya. Lalu berliau kembali melanjutkan,  "Ini semuanya tentang cara kalian. Cara kalian untuk menyelesaikan masalah. Bukan terpaku hanya sama rumus saja. Rumus diberikan lalu kalian apakan? Kalian aplikasikan, kan? Kehidupan pun begitu. Perumpamaannya ketika kalian sedang berjalan kalian nemu batu yang berpotensi untuk membuat kalian tersandung, batunya akan kalian apakan? Dipungut? Dibuang? Atau kalian bawa-bawa?"


Hmmm kesimpulan yang saya bisa tarik: kita belajar memang bukan untuk ngitung sesuatu yang sebenarnya gak dihitung juga gak apa-apa. Di sekolah kita diajarkan untuk menyelesaikan masalah, Iya artinya, kita di kedepannya memang akan terus ketemu dengan masalah. Masalah pribadi, negara, ya masalah apa pun lah!

Eh jangan terlalu dipikirin ya saya masih SMA.

Thursday, September 29, 2011

Beginilah Rasanya Kenyataan

It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry

The Call - Regina Spektor


Jika ada orang bertanya pada saya tempat mana yang paling ingin saya kunjungi, saya akan jawab "Turki". Kalau orang itu nanya lagi mau kapan, saya akan jawab "besok". Gila ya? Uang jajan setaon aja mungkin gak akan cukup buat ongkos pergi ke Turki. Lagian ke Turki mau apa sih? Untuk sementara tujuan saya belum jelas. Apa saya mau kerja di sana, sekolah, atau cuma vacation. Aim nya belum jelas.

Cita-cita saya adalah jadi orang berguna, yang senantiasa dibutuhkan sama banyak orang. Jujur, saya ngiri sama Bill Gates. Awalnya gimana ini? Kapan pertama kali denger kata "Turki"? Waktu itu taun 2004. Untuk pertama kalinya saya denger Turki adalah sebuah negara, dengan Ankara sebagai ibukotanya. Awalnya aneh juga kenapa negara itu dinamai "Turki". Turkey kan sejenis unggas yang sering disajikan saat hari raya umat Kristen? After that, I never mind .

Bertahun-tahun kemudian saya kembali denger kata "Ankara". Waktu itu grup band Ankara emang lagi tren. Yang paling saya inget dari band itu adalah vokalisnya yang suka pake gelang karet banyak-banyak. Musiknya sih gak terlalu suka, lagian masih kecil juga jadi belum terlalu berminat sama hal yang seperti itu.

Lama setelah itu saya dikenalkan dengan kata "Konstantinopel". Sebuah kota tua yang merupakan kota penting pemerintahan Byzantium. Sejarah peradaban yang mengagumkan. Tahukah bahwa Konstantinopel itu kini dinamai Istanbul, kota terbesar di Turki? Yang telah ratusan tahun tahtanya ditempati oleh seorang Sultan.

Mulailah si Turki ini mencuri hati saya. Entah kenapa semakin berniat, semakin mudah menemukan jalan. Saya ingin tahu banyak tentang Turki, saat itulah banyak buku seakan sengaja ditebar tepat di depan hidung saya. Jalan-jalan ke gramedia, palasari, atau toko buku yang lain saya selalu menemukan buku tentang Turki. Sejarah modern beserta kunonya, tokoh mashyur, hingga tempat-tempat mengagumkan disana. Kenapa begitu banyak pertanda? Kemudian saya berharap bisa pergi ke sana suatu saat.

"Aku mah mau ke Turki besok, yeeeeeeey. Iya, tapi besoknya lebih dua atau tiga tahun."

Lalu saya berpikir bagaimana caranya orang-orang bisa pergi ke luar negeri. Yang pertama tentu harus punya banyak uang, untuk punya banyak uang kita harus bekerja, untuk dapat pekerjaan yang mudah kita harus sekolah tinggi, untuk sekolah tinggi kita harus pinter dulu. Dan tiba-tiba kenyataan menampar saya.

PLAK!!

Sakit hati ketika saya lihat ulangan kimia saya nilainya 65. Bagaimana bisa saya ke Turki kalau begini? Memang beginilah rasanya realita. Situasi paling menyedihkan bagi saya adalah kenyataan. Saya muak.

"Allah akan selalu membantu hamba-Nya yang benar-benar mau berusaha"

Saat risau dan galau begini memang enaknya berdoa. Minta, namprak sama Yang Punya Kuasa. Ya Allah, jadikanlah dorongan ini sebagai jalanku menemukanMu. Jadikanlah aku mencintai Turki karenaMu.

Monday, August 22, 2011

hmmmmm aku suka-sukaan

ee ehmm.. Tuhan sedang apa?
Tuhan, tau tidak aku sedang suka seseorang?
Hihihi, aku malu mengakuinya.
Tapi menurutmu bagaimana?
Apakah boleh aku suka sama seorang ikhwan di usiaku ini?
Aku baru 16 tahun lhooo :D

Tuhan, normal tidak aku tidak suka sinetron?
Remaja seusiaku sekarang sedang gandrung dengan sinetron.
Kalau aku lebih suka drama Korea sih.

Tuhan, dia ikhwan yang pintar.
Kata temanku dia aktif di kelas, sering bertanya.
Namanya diawali dengan kata "Muhammad".
Bagaimana?

Tuhan pasti tahu apa yang kulakukan kalau kelas bubar.
Aku akan pura-pura bingung dan berdiri di balkon depan kelas.
Memandang lurus ke arah jam 11 dari sana.
Itu kelasnya.
Tapi dia selalu keluar lama.

Tuhan tau kan?
Kali ini aku bisa menyukai ikhwan normal.
Sebelumnya aku suka sama ikhwan pemalas.
Sebelumnya lagi sama seorang protestan.
Kali ini dia seorang normal, Tuhan :D

Tuhan, kalau diizinkan aku mau dekat dengan dia.
Tapi aku juga takut hal itu akan membuatku lupa sama Tuhan.
Gimana baiknya saja, semuanya terserah Tuhan.
Bukan mau mengatur ya, Tuhan :D

Wednesday, June 29, 2011

Hore dede gua sunaaaaaat!!!

Tanggal 26 Juni kemaren si adek sunat. Hahaha dia baru mau disunat kemaren-kemaren. Mungkin malu karena udah 10 taon gak sunat-sunat. Temennya aja yang umurnya 6 taun udah ada yang sunat. Hahahaha lucu amat liat ni anak jalan ngagegang (ngagegang? Itu lho bahasa sunda kalo orang jalan dengan rentang kaki kanan dan kaki kiri gak wajar alias lebih dari normal. Haha). Udah gitu, mana kolornya gede banget, perbannya tebel pula. Hihihi..

Dari malem emang atmosfer rumah udah beda, jeng lampu the kedap-kedip wae.. (gak ada hubungannya sih). Nah, hari kemarennya mama masak agak banyak, biar nanti pas subuh-subuh mau berangkat ke Caringin gak riweuh teuing. Oya, sunatnya di klinik sunat daerah caringin. Si adek ngambil yang jam 4 subuh (pagi amat yak? Iya soalnya kalo agak siang jadi mahal bisa 2x lipat biayanya. Sama aja sih, cuma modal bangun pagi doang, kalo orang kaya males kali ya bangun subuh jadi ngambil yang agak siang, keluar duit gede juga gak apa-apa hahaha. Kalo saya mah kan orang biasa ^^).

Mamah, adek, bapak berangkat naek motor jam 3.10. Aku ditinggal sendiri di rumah jadilah nonton tipi da udah gak ngantuk. Eh si mbe filmnya film dewasa semua hahaha males deh nonton tipi yaudah tidur lagi. gak berapa lama saya dibangunin bangun da ada yang ngegedor-gedor pintu. Eh, ternyata penganten sunat udah balik.

“Heeueuh! Kebo dasar perawan teh tidur sampe bablas kieu. Can solat jaba nya?”
Waduh!! Iye belom solat subuh, padahal waktu udah jam 6 pagi hmmm yaudah daripada gak sama sekali.
BUAHAHAHAHAHA!!

Ya namanya juga penganten sunat yang pasti diperhatiin ya celananya. Saya liat teh celananya menjendol gede pisan. Hahaha apaan tuh?? Emang kalo udah sunat ukurannya jadi lebih gede ya?
“Hush!! Ini kolor khusus! Gede enak aja!” kata si adek membela diri.
Ooooooohh, kolor khusus ^^

Sepanjang pagi si adek ceritaaaaaaaa mulu soal proses sunatan. Mulai dari awalnya dateng kesono kliniknya penuuuh banget, proses nunggu dan kemungkinan kaburnya dia (mamah sama bapak nyangka si adek kabur soalnya lama banget gak ke luar, ya kagak lah mana mungkin bisa kabur lagian juga), terus proses khitan yang gak kerasa sama sekali, terus katanya sebelum khitan tuh pundak si adek ditepok dulu (biar apa ya? Oh sedikit sentuhan terapi tak sadar diri mungin..ceile tak sadar diri), dan anu nya yang setelah disuntik ditari-tarik dulu beberapa kali biar agak panjang!! Hahaha gak mau ya tu anak nyeritain beginian.

Besok dan lusanya banyak orang yang nengok ke rumah, nyecep duit dan julmahnya banyak banget. Mulai dari abah sama emak, teh Wiwin sama suami dan anaknya, nek Eli, wah banyak dah. Kaya mendadak nih si adek.

“Tuh kan mama bilang apa, sunat itu enak. Coba dari dulu. Sugan teh bener mau sampe SMA,” kata mama.

Iya tuh emang disunat itu enak. Dapet duit, maenan baru, hape baru, “anu” baru, dan banyak makanan sama kue sama permen berserakan di rumah!! Naaah, sekarang saya lagi bujuk si adek buat beli pulsa modem seenggaknya dia mau patungan 50.000 aja. hahaha tapi imposibel deng, da diamah pelit pisan orangnya. Tak apa lah, yang penting semua senang!!!

Thursday, June 16, 2011

UKK selesai!! Yes!!

haaaaaah, udah lama banget nih gak posting. Kepalang UKK jadi gak berani buat-baca-baca yang lain  (apalagi posting).

UKK beres bukan berarti semuanya berakhir..degdegan nya justru sekarang-sekarang. Nunggu rapot 23 Juni lamaaaaaaaaaaaa banget. Gak tau deh nilainya sepertinya turun. Datang ke sekolah liat-liat pengumuman barangkali ada remedial atau apa. Ah, beneran da bikin setres inimah.

Ngomong-ngomong soal setres, cara paling ampuh buat ngilangin stres itu buang uang!! haha bukannya saya orang kaya, tapi ya baeweh da uang sendiri gak minta sama orangtua (ya tapi masih dari mereka sih, cuma dikumpulin jadi agak banyak). Caranya?? beli-beliin weh seenak udel. Beli ini ke itu kek, apalagi kalau bukan BUKU??

oya, kemaren baru beli novel karangan Elizabeth Kostova judulnya The Historian. Alur ceritanya gimana ya gak tau da belom selesai baca. Yang tau latarnya itu di Amsterdam taun 1970-an lah. Ada bapak nyeritain ke anaknya yang berumur 16 tahun tentang masa lalunya. Ntar kalo udah selesai baca insyaallah posting sinopsisnya deh.



Eh iya, kemaren si Mang Adi lahiran. Eh istrinya maksudnya. Alhamdulilah lahir selamat di bidan terdekat bayi laki-laki yang imut ini. Sebenernya gak imut sih, buat bayi ukuran segitu tuh gede. Da saya juga belom liat deng, tapi nanti insyaallah Jumat lusa mau nengok kesono ke daerah Cihanjuang. Katanya namanya Tedi Ashar, haha gak tau bener atau cuma guyonan doang. "Kan usum ayeuna mah Wahyu Subuh, Najib Maghrib. Tah ayeuna Tedi Ashar," gitu cenah kata sang bapak. haha ada-ada aja. Kenapa ashar gitu ya gak Duhur aja atau Isya gitu. Tedi Duhur, Tedi Isya haha meni oon ngasih nama teh :P

Haha baru brojol banget nih, nguap pula -__________-

Monday, May 23, 2011

Sekilas Muslim di Turki dan Denmark

Hm...entah kenapa saya kemarin-kemarin sedang tertarik untuk mainan omegle. yap, situs dengan ikon omega miring dengan "talk with the stranger"-nya memang sempat buat saya kesemsem.

iseng-iseng, tapi saya mengaku senang bisa chat dengan orang-orang dari luar negeri, meskipun bhs inggris saya jelek ya cuek ajalah gak kenal ini. Hahaha..

Pernah satu malem saya chat sama orang Turki, namanya Alp. Kebetulan dia seorang muslim juga. Yaudah deh kita ngobrol ngaler ngidul kemana-kemana ngomongin sejarah. Meskipun agak gak nyambung karena kendala bahasa. Tapi, chat sama orang bener macam Alp ini bisa dibilang prestasi loh. Kenapa?lebay? Saya rasa tidak, karena jaman gini susah buat cari orang bener, apalagi di Omegle. Kebanyakan orang menggunakan Omegle buat hal yang buruk dan gak guna. Yah, saya kira anda-anda mengerti.. ehm.. maksud saya.

Nah, di tengah obrolan kita ngomongin tentang populasi muslim, baik di Indonesia sini atau di Turki. Alp bilang Turki itu mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi banyak yang gak mencerminkan. Kebanyakan pabrik-pabrik atau industri besar di sana gak mengindahkan seruan adzan, mereka hanya ngasih waktu istirahat yang sempit banget, dan Alp bilang hal itu bikin para karyawan gak memungkinkan untuk shalat.

Lain di Turki, lain juga di Denmark. Kali ini partner saya namanya Simon. Kesan pertama saya liat dia, mukanya itu cengengesan dan cerminan dari anak brandal. Eh taunya emang bener dia berandal, ngaku pula pernah ditangkep polisi karena berantem adu pukul botol bekas alkohol. Gak tau deh bener apa enggak. Karena waktu itu kita chat nya video dan saya lagi pake jilbab, mulai deh masuk ke topik ini. 

Awalnya Simon nanya apa benda putih yang menutupi rambut saya, ya saya jawab aja ini hijjab (bhs internasionalnya jilbab). Terus dia bilang kenapa saya melakukan itu, dan tidak membiarkan rambut saya terurai. Saya jawab karena saya muslim. Wah, obrolan kita panjang banget. Sebenarnya Simon ini seorang Kristian, kristian yang baik. Dimana saya tau? dari bicaranya, dia sopan banget. Kalau salah dikit aja minta maap. Terus dia bilang kalau dia pernah baca Quran dan berpikir Quran itu bagus, dia juga bilang suka sama perempuan yang gak menunjukkan bagian badannya (bener apa kaga ya?)

"idk, i just like that thing, Farras" gitu cenah katanya.

Kalau di Denmark ini menurut cerita Simon banyak juga orang Islam. Tapi sebagian dari mereka gak begitu taat aturan, katanya. Terkadang orang muslim di sana cuma shalat 3-4 kali sehari, tetap makan di bulan ramadan, gak semua perempuan muslim Denmark pake hijjab.

"Burka!"

buseeeeeet, sangka gue basa apa tuh taunya Burka itu jilbab kalo bahasa Denmarknya.

"wht burka?"
"its hijjab. i just remembered that ^^" kata Simon.

waoooo, keliahatan kok ni anak gak begitu bandel..

Simon juga bilang katanya jual-beli sex di Denmark itu legal!
What?legal? OH MY GOD!!

Hmmmm... begini nih, belom mata perih sih ya terus nulis aja. Yaudah, sekian itu tadi sesuatu yang saya simpulkan tentang pendapat beberapa orang tentang situasi muslim di luar Indonesia, yakni Turki dan Denmark. Semoga apa yang mereka bilang itu gak sepenuhnya bener. Saya yakin masih banyak orang yang gak cuma pegang agama sebagai embel-embel, tapi sesuatu yang amat penting dan sakral. Yah, semoga saja...

Tuesday, April 19, 2011

Hai, nama saya Abizar

Hahaha.. gak tau dia bakal ngamuk atau gimana kalau tau saya nulis tentang dia disini.


Nih, kenalkan adik saya yang paling ganteng (iyalah satu-satunya getoh) namanya M. Abizar. Umurnya udah sepuluh tahun dan dia duduk di kelas 4 SD. Ahh, usia kita cuma beda lima tahun, mungkin hal ini yang sering bikin kita selalu bertengkar dan bikin mama marah (maaf ya ma).

Ya, makanya kita berantem pasti ada sebabnya. Kalau dia tidak menyebalkan begitu mana mungkin saya ujuk-ujuk ngegeplak bibirnya. Yah, meskipun kadang suka asem, adik saya ini pinter loh. Ya, seenggaknya masup sepuluh besar lah di kelasnya. Hihihihi...

Tapi, meskipun udah gede begini, dia belum juga disunat. Takut cenah.

"Heh, kapan sunat lu?"
"Nanti kalau udah SMA."

Waduuuuuuh, mama dan bapak juga maunya begitu, nunggu sampai dia mau. Tapi, ya kalau sampai SMA mau disunat pake apa? Gergaji?

Selain belum sunat, si adek ini suka sotoy. Misalnya kalau mau mandi suka pura-pura manggil mama atau aku.
"Maaaaaaaaaaaaa, sini deh."
Hemh, tipuan! Dia sebenernya takut tuh kalau ditinggal sendiri di kamar mandi atau dapur. Maunya ditemeniiiiiin terus. Kalau mandi, eek, atau bahkan naro piring atau cuma minum. Haduh ampun deh.

Selain itu, dia juga suka nanya pertanyaan yang bego banget.
"Ma, aku gosok gigi ya?" Elah! Gosok gigi aje pake minta ijin. Atau "Ma, aku mau eek boleh gak?"  Lah, gimana kalau mama jawabnya gak boleh?

Yang lain lagi, ni anak hobi banget ngoleksi mainan. Mainannya udah menggunung, berapa biji tuh ember gede penuh sama mainan dia semua, ditaro dipojok ruangan dan kadang-kadang ngeberusut longsor. Dan yang udah rongsok pun gak boleh dibuang. Kalau ketauan dibuang, beuh dia bakalan ngamuk-ngamuk deh.
"Ulaaah, eta teh nu abi nyaho!"* 

Dia sotoy kan? Kalo gak percaya liat nih:








 *"Jangan itu punya aku!"



 

Monday, March 21, 2011

It's Our Journey

Saat sampai kami digiring pembimbing ke daerah pertambangan Kapur di sekitar Gunung Masigit. Disini kami mencatat poin-poin penting yang disampaikan pembimbing.
  
  . 


            Inilah Gunung Masigit! Ternyata kami sedang berjalan mendekatinya! Gunung itu begitu megahnya menjelang di depan kami, seakan menantang siapa saja yang akan menjajakinya. Tapi perhatikan! Ada sebagian badan gunung yang gundul akibat ditambang—lebih tepatnya dilubangi di sana-sini, diisi dinamit, dan diledakkan—oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Si Masigit ini kami lihat dari Puncak Pawon, keren kan?


             Setelah Gunung Masigit kami lewati, tibalah kita ke tempat selanjutnya : Stone Garden. Sebenarnya, letaknya di Puncak Pawon juga sih, hanya saja kami harus ‘sedikit menanjak’ untuk sampai di tempat ini. Konon, dulunya daratan ini adalah sebuah laut, yang kemudian terangkat ke permukaan. Nah, batu-batuan inilah terumbu karangnya. Sudah mirip Taman Nasional Yosemite, belum?
Beberapa menit disana, kami diharuskan pergi ke tempat selanjutnya. Karena dekat gunung, tanah disana gembur-gembur dan dengan senang hati menempel di pinggir-pinggir sepatu kami, akibatnya kami sering berhenti untuk menggesek-gesekan-nya di batu atau benda keras apa pun yang kami temui (ter-masuk lelehan kerikil kering yang mengeras!)

            Setelah itu kita terus berjalan mendaki—masih di Puncak Pawon loh—hingga berhenti di salah satu tempat berkesan. Bisa dilihat kan, makam yang kami temukan disana. Kata petugas pembimbing dibuatnya makam ini bukan untuk menguburkan seseorang, tapi sebagai bentuk balas jasa penduduk sekitar kepada orang yang telah dianggap berjasa. Tepatnya kami tidak tahu, tapi disinyalir makam ini kosong alias sama sekali tidak ada yang akan ditemukan di dalamnya.
            Di sekitar makam juga kami menemukan batu-batuan yang disusun mengelilingi makam. Satu hal lagi, batuan yang umumnya ditemukan di pegunungan adalah batu gamping, sedangkan tahukah kamu batuan yang mengelilingi makam ini? Batu kali! Secara logis, batu kali tidak mungkin bisa ada di atas gunung. Lagi-lagi pembimbing bilang susunan batuan itu hanya untuk ritual penduduk saja, juga sebagai bukti bahwa sejak saat peletakan batuan itu sudah ada peradaban dan kepercayaan animisme dan dinamisme.



            Kami melanjutkan perjalanan. Perjalan yang satu ini yang paling berkesan bagi kami. Ceritanya begini. Kami terus digiring, dibimbing untuk teruuuuus berjalan naik, menanjak. Dengan jalan datar saja sudah capek, ditambah kali ini jalan yang berlumpur dan menanjak—belum lagi hujan gerimis yang turun rintik-rintik. Kami teruuuuuuuuuuuus menanjak dan menanjak. Akhirnya kita berhenti di satu titik sekitar puncak ‘tanjakan’ ini. Kamera telepon genggam masih bisa kami pegang dan kami mengambil beberapa gambar dari puncak sini.
            Hanya selang lima menit, kami berjalan kembali. Kali ini medannya menurun. Dengan kemiringan yang masih wajar kami dengan sabar menuruni jalan ini. Dengan semak belukar di kanan-kiri kami, ditambah sepatu yang ‘amat ringan’—karena tanah basah dengan senang hati mengikuti, menempel pada alas sepatu kami.
            Kini kemiringannya sudah kami anggap tidak waras. Badan cenderung maju ke depan dan akibatnya jatuh puluhan kali kami alami. “Terus saja ikuti jalannya, nanti kalian akan menemukan tali untuk berpegangan. Hati-hati posisi kalian harus miring, membelakangi boleh juga sih,” kata salah satu pembibing kami. Astaga! Entahlah, mungkin jalan ini tidak akan berujung! Ribuan kali kami mengeluh kapan selesainya jalan ini, tapi pembibing dengan wajah sukacita bilang, “bentar lagi nyampe kok”. Beberapa bentar-lagi-nyampe-kok terus menghibur kami. Hingga akhirnya.....
Syukuuuuuuuuuuuuuur kami ucapkan setelah menemukan pemukiman dan pondok besar di depan kami. Dengan sukacita dan bangga kami berhasil melewati jalan itu. Foto ini garis akhir kami!



            “Syukur, Kak, kita sampai juga. Eh jalan apaan sih itu?”
“Ada ujungnya juga, kan? Oh, itu? Namanya Tanjakan Frustasi.”

Em pantes!

            Kita beristirahat di pondok. (pondoknya tidak kami potret, karena keasyikan makan, sih). Kira-kira satu jam kami duduk di sana, melepas penat dan bercerita lewat sudut pandang masing-masing. Pakaian kami begitu kotor, sepatu kami sudah dekil, dan celana kami tidak berbentuk! Seringkali kami jatuh dan terperosok di Tanjakan Frustasi. “Ada yang lebih kotor dari saya?” nampaknya tidak ada karena semuanya sama, sama-sama cakeutreuk.
            Setelah puas duduk berleha-leha, kami memenuhi panggilan menuju tempat berikutnya, Gua Pawon. Katanya gua ini merupakan tempat tinggal manusia purba, dengan bukti penemuan fosil dan sampah-sampah rumah tangga. Lagi-lagi kami jalan kaki, tapi kali ini jaraknya jauh lebih pendek disbanding sebelumnya.
            Kesan yang timbul ketika memasuki ruang utama gua adalah begitu berharganya udara di luar. Astaga! Disini bau sekali! Gua yang pengap, gelap, dan bau ini pernah dijadikan rumah? Kami bersyukur dilahirkan di era abad 21.
            Ketika menengok ke atas, banyak tergantung kelelawar-kelelawar pemakan buah dan serangga sedang tidur siang. Hewan ini termasuk nokturnal, jadi kebanyakan aktivitasnya dilakukan di malam hari. Ukuran mereka tidak terlalu besar, dan mereka bebas buang kotoran di mana-mana! Di dinding gua, stalaktit, stalakmit, dimana-mana! Jadilah gua ini bau dan pengap.
            Matahari kembali kami temukan setelah memanjat—atau merangkak?—lalu kami menemukan fosil manusia purba yang dikubur meringkuk itu. Fosil itu berupa janin manusia. Tahukah ka-mu fosil itu adalah fosil tiruan alias replika? Fosil aslinya sekarang ada di Balai Arkeo-logi Bandung dan sedang diteliti le-bih lanjut. Konon, manusia itu adalah nenek moyang orang sunda.
                  Kami terus melangkah maju, menemukan satu titik dimana kami bisa melihat Gua Pawon dari arah depan. Di sekitar mulut gua terdapat pohon-pohon tinggi. Dari ukuran-nya yang ramping sampai lebar mengelilingi si Pawon ini. Setelah diberi penjelasan, kami kem-bali ke pondok melewati Gua Pawon lagi—tentu saja! Tidak ada jalan lain—yang artinya kami kembali disambut bau khas yang pertama kami cium tadi. Bedanya, kali ini tidak begitu kaget ketika aromanya sampai ke hidung (karena terbiasa kali ya?).
            Kami kembali ke pondok. Hari sudah siang dan tiba saatnya kita untuk pulang. Sambil menunggu kelompok lain kembali, kami duduk-duduk dan lagi-lagi makan. “Bantu abisin, nih. Biar bawaan gue ringan,” kata Mauren. Oh, dengan senang hati J
            Tiba akhirnya semua kelompok sudah berkumpul. Dari mulai X1 sampai X8. Rombongan SMA 6 akhrinya berjalan menanjak lagi untuk sampai ke jalan raya. Kali ini yang kami lewati sudah berupa pemukiman, tidak lagi pepohonan seperti di gunung tadi. Lelaaaaaaaaaaaah sekali rasanya kami ingin membanting diri saja. Ketika ada truk yang berhenti di depan kami, kami langsung menyerbunya. Kami naik dengan cepat dan posisi satu sama lain tidak beraturan. Sialnya, truk tidak kuat dan kami terpaksa turun, kembali ‘menikmati’ jalan yang panjang lagi. Badan sudah gatal dan lengket karena keringat, ditambah kerongkongan yang tidak bisa kompromi.
            Akhirnya sampai juga di jalan raya. Tinggal menunggu bus. Bus datang, dan kami diantarkan sampai alun-alun Masjid Raya Bandung. Selebihnya kami disibukkan mencari angkot.